Sport/Health/Dll: Cerpen
Headlines News :

New Update

Latest Post

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Janji Sehidup Semati

Written By Herianto on Saturday, 9 May 2015 | 10:22

Janji Sehidup Semati

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 8 May 2015

“yang, aku kangen sama kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Apa kamu ingat 3 bulan yang lalu, tepatnya saat hari ulang tahun ku yang ke 16? Kita telah berjanji akan sehidup semati. Maka dari itu, aku akan segera menyusul mu, agar kita dapat bertemu di alam sana…” ucap seorang gadis yang sedang merintih di dekat sebuah makam.
“udah sore, aku pulang dulu yah yang? Besok aku bakal kesini lagi kok” lanjut sang gadis.
Bruukk!!
“eh, maaf ya, aku gak sengaja nabrak kamu. Sekali lagi maaf ya” kataku dengan rasa bersalah.
Akan tetapi, gadis itu mengacuhkan ku dan terus melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.
“eh, apa ini? Dompet? Jangan-jangan ini milik cewek tadi” kata ku sambil memungut Dompet yang jatuh di tanah.
“uhuk.. Uhuk.. Apakah dompet yang kamu pegang itu milik gadis tadi?” tanya seorang kakek yang datang menghampiri ku dari belakang.
“i.. iya. Emang kakek kenal dengan gadis tadi?” tanya ku penasaran.
“Nama nya Jeje. Dia sudah tak asing lagi di mata kakek. Setiap hari dia berziarah ke pemakaman ini, sejak 2 bulan yang lalu. Dan disini, adalah tempat peristirahatan terakhir kekasihnya” jawab sang kakek.
“oh, jadi ini makam kekasihnya ya, yang telah meninggal 2 bulan yang lalu”
“iya. nak, dompet gadis tadi biar kakek saja yang simpan. Besok kalau dia ke sini lagi, akan kakek kembalikan padanya”
“emang kakek siapanya dia?” tanya ku penasaran.
“kakek adalah penjaga pemakaman ini” jawab sang kakek.
“hmm… Ya udah, biar saya aja kek yang menyimpan dompet ini. Besok saya kesini lagi untuk mengembalikannya”.
“oh, ya sudah kalau begitu. Kakek tinggal dulu ya nak.” ujar sang kakek seraya pergi meninggalkan ku.
Jeje, seorang gadis yang mengalami tekanan mental karena ditinggal kekasihnya untuk selamanya. Kekasihnya meninggal 1 bulan setelah mereka mengucapkan janji sehidup sematinya. Dan janji itulah yang membuat Jeje ingin segera menyusul kekasihnya di alam sana, agar Jeje dapat menepati janji sehidup sematinya kepada sang kekasih.
keesokan harinya di rumah jeje…
“mbok, lihat dompet ku tidak?” tanya jeje kepada pembantunya.
“nggak non. Mbok tidak melihatnya” jawab sang pembantu.
“aduh, dimana sih dompetnya? Sayang, maafin aku ya, aku udah menghilangkan dompet pemberian darimu. Aku telah lalai dalam menjaga barang pemberianmu” ucap jeje yang berbicara sendiri.
Semenjak kematian kekasihnya, jeje sering berbicara sendiri. Dia beranggapan bahwa kekasihnya selalu berada di dekatnya.
“non, tempat yang terakhir kali non kunjungi dimana?” tanya pembantunya jeje.
“terakhir kali aku ke pemakaman, semalam”
“oh iya, jangan-jangan tertinggal disana. Aduh, aku harus segera kesana sekarang” kata jeje seraya berlari menuju garasi untuk mengambil mobilnya.
“eh non, mau kemana?” tanya sang pembantu. Tapi jeje tidak mempedulikan pertanyaan pembantunya itu, dan terus berlari menuju garasi.
Setelah sampai, jeje bergegas menelusuri setiap sudut dari pemakaman tersebut. Akan tetapi ia tetap tidak menemukan dompet yang tertinggal di pemakaman ini.
“aduh, dimana dompet pemberian mu sayang? Jangan sampai hilang. Semoga segera ketemu” ujar jeje yang masih mencari dompet tersebut.
“ehem… Permisi, apakah kamu mencari ini?” tanya ku seraya memperlihatkan dompet miliknya.
“eh, kok ada sama kamu?”.
“kemarin, kamu menjatuhkannya. Jadi aku mengambilnya dan berniat untuk mengembalikan ke kamu. Nih, dompetnya” kata ku sambil memberikan dompet miliknya.
“makasih ya.” kata jeje.
“Sayang, akhirnya dompet pemberian mu ketemu. Aku janji, aku gak akan lalai lagi dalam menjaga barang pemberian mu” ucap jeje berbicara sendiri.
Kemudian jeje segera berjalan menuju mobilnya kembali.
“eh, tunggu…” teriak ku.
“ada apa?” tanya jeje.
“boleh gak kita ngobrol sebentar, yah sekalian makan siang?” ajak ku.
“hm… Maaf, kalau sekarang aku gak bisa. Gini aja, kamu save nomor ku, ntar kita calling-callingan aja. Soalnya ntar sore aku kesini lagi kok”. Kata jeje menolak.
“oh oke, berapa nomor mu?”.
“08163645129″.
“oke, aku save ya…”.
“yap”
“oh iya, kenalin, aku heri”.
“oh, aku jessica vania, panggil aja aku jeje”
“oh, jeje ya.. Salam kenal yah”
“iya”
Lalu jeje segera berlalu, meninggalkan ku pulang ke menuju rumahnya.
“hm.. Benar-benar cewek yang unik. Aku jadi semakin penasaran dengannya” ujar ku dalam hati…-

“hallo, ini jeje kan?” kata ku dari telepon.
“iya, ini siapa ya?” tanya jeje.
“aku heri, yang tadi ngembaliin dompet mu di pemakaman”.
“oh, iya iya. Ada apa ya?”.
“kapan nih kita bisa ketemuan lagi?”.
“ntar sore aja, jam 4 di pemakaman tadi. Oke?”.
“oke deh, jangan telat yah”.
“iya iya” kata jeje mengakhiri percakapan kami di telepon.
Aku sudah sampai duluan di pemakaman. Tak lama kemudian, dari kejauhan, terlihat jeje tengah berjalan ke arah ku.
“hai, je..” sapa ku.
“hai juga. Hm.. Oh iya, aku mau berziarah dulu ya ke makam pacar ku”.
“ya udah, sekalian aku juga ikutan. Hehehe…” pinta ku.
Lalu kami segera menuju makam kekasihnya jeje. Setelah sampai, jeje segera membersihkan dedaunan yang berjatuhan di makam pacarnya. Aku pun ikut membantunya.
“oh iya her, kenalin, dia andry, pacar ku” kata jeje.
‘ohh.. Nama pacarnya yang telah meninggal andry ya..’ ucap ku membatin.
“oh, andry ya. Kenalin, aku heri, salam kenal ya bro”.
“sayang, dia ini orang yang telah menemukan dompet pemberian mu yang tertinggal di pemakaman ini kemarin. Sayang jangan khawatir ya, aku gak ada hubungan apa-apa kok dengannya” ucap jeje sambil memegang batu nisan di makam pacarnya.
‘iya, aku emang nggak ada hubungan apa-apa dengan kamu, tapi suatu hari nanti aku yakin, kamu bakal melupakan andry yang telah meninggal dan akan jatuh ke dalam pelukan ku’ kata ku dalam hati.
“iya ndry, lo jangan khawatir” ucap ku.
“hei, kamu jangan sok akrab ya dengan pacar ku!” bentak jeje.
“eh, bukan gitu maksud ku… Hmmm… Oh iya, walaupun beda alam, kamu dan pacar kamu terlihat serasi deh” kata ku membantah.
“apa! Jadi kamu pikir, pacar ku sudah tidak ada lagi!” bentak jeje lagi.
“aduh, anu, bukan gitu. Maksud ku kalian terlihat serasi saat pacar mu masih hidup”.
“jadi maksud mu, aku dan andry terlihat serasi hanya ketika dia masih hidup!”.
‘aduh, serba salah deh gue ngomongnya. Gini nih, kalo seseorang sedang depresi karena ditinggal mati sama pacarnya. Sangat sensitif’ kata ku membatin.
“ya udah, aku pergi dulu yah sayang. Besok aku akan kesini lagi. I love you” ucap jeje di depan makam pacarnya.
Lalu jeje berdiri dan menoleh ke arah ku.
“oh iya, katanya kamu mau ngobrol dengan ku? Dimana?” tanya jeje.
“di cafe aja. Sekalian kita makan disana” ajak ku.
“oke deh. ”
Lalu, aku dan jeje bergegas memasuki mobil kami masing-masing dan segera menuju cafe.
Hari demi hari telah kami lalui bersama. Bahkan, setiap jeje ke makam pacarnya, aku pun juga ikut bersamanya. Hingga suatu hari, ia dilarikan ke rumah sakit. Saat aku tanya pada dokter apa penyakitnya, dokter mengatakan bahwa pembuluh nadi di otak jeje pecah. Itu diakibatkan karena jeje terlalu banyak pikiran. Mungkin dia terlalu stres memikirkan andry yang sudah tiada dan juga janji sehidup sematinya. Dokter juga mengatakan bahwa kemungkinan jeje bisa selamat dari maut adalah 30 persen. Betapa kagetnya aku ketika mendengar pernyataan dokter yang menangani jeje itu.
Saat aku memasuki ruangan dimana jeje di rawat, betapa sedihnya ketika ku lihat jeje terbaring lemas tak berdaya. Langsung saja ku hampiri dia. Lalu, aku belai rambutnya yang hitam dan panjang, dan ku genggam tangannya dengan erat. Seketika, jeje pun tersadar, dan menatap lemas ke arah ku.
“heri, makasih ya kamu udah mau menemaniku disini” kata jeje dengan suara yang lirih.
“je, kamu harus segera sembuh. Kamu harus kuat je” kata ku menyemangati.
“nggak bisa her, ini lah saat dimana aku akan menyusul andry. Kami akan menjadi pasangan yang sangat serasi di alam sana”.
“itu nggak boleh terjadi je. Kamu harus tetap hidup. Aku sayang dengan kamu, aku gak mau kehilangan mu. Biarkan aku menjadi pengganti andry di hati dan pikiran mu, je”
“makasih sekali lagi her, kamu udah tulus menyayangi ku. Tapi sepertinya, ajal ku sudah dekat” kata jeje sambil tersenyum.
“her, itu andry sedang berdiri di depan pintu. Sepertinya dia ingin menjemputku untuk menyusulnya” ucap jeje dengan suara yang semakin lirih.
“je, dengarkan aku je…” kata ku panik.
“selamat tinggal her. Makasih atas semua yang telah kamu berikan di sisa hidup ku…”
tiiiiiiiit…
“dok, tolong dok! Dokteeer!!” teriak ku memanggil dokter.
Akan tetapi, nyawa jeje tak dapat di selamatkan. Betapa sedihnya aku pada saat itu. Orang yang ku sayang, meninggal di hadapanku.
“jeje, akhirnya impian mu tercapai. Kamu sudah berada di alam sana bersama andry. Dan kamu telah menepati janji mu, janji sehidup semati dengan andry.” ucap ku sedih.
2 minggu kemudian…
“nak, bangun nak.. Sudah malam, nggak baik di kuburan malam-malam” ujar seseorang membangunkan ku.
“eh, Sudah malam yah? Hmmm… Makasih ya kek udah bangunin saya” kata ku kepada kakek penjaga pemakaman itu.
“kakek turut berduka cita atas meninggalnya jeje. Kakek tau, kamu sangat menyayangi jeje. Tapi, apa kamu mau setiap hari berkunjung ke makam jeje ini sambil menangisinya, seperti yang dilakukan jeje terhadap pacarnya dulu?” tanya sang kakek.
“entahlah kek, saya masih bingung. Ya sudah, saya pulang dulu yah kek” kata ku seraya meninggalkan sang kakek.
Janji sehidup semati.. Janji itulah yang membuat jeje ingin menyusul andry sang pacar yang lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa. Janji, yang membuat jeje bersikeras untuk menepatinya. Maka, jangan lah mengumbar janji, jika tidak bisa menepatinya!
Tamat

Kisah Seorang Anak Yang Cacat

Written By Herianto on Monday, 8 December 2014 | 17:29



Mengapa sampai saat ini Ibuku malah semakin sayang pada saudara tiriku. Sedangkan aku? Sepertinya dibuang, Ibuku tidak memperhatikanku lagi, makan pun aku harus mengambil sendiri dengan keadaanku yang seperti ini. Aku lumpuh tak dapat berjalan, aku hanya dapat duduk di kursi roda sepanjang harinya. Sepertinya aku ditelantarkan oleh ibu kandungku sendiri. Andai saja tidak ada kakaku Aisyah yang memperhatikanku mungkin sekarang ini aku sudah mati kelaparan. Ibuku jarang menanyai ‘sudah makan apa belum?’ atau kata yang lainnya yang menunjukan bahwa dia peduli kepadaku. Aku sedih dan aku sakit hati, ternyata aku diterlantarkan oleh ibuku sendiri justru yang mendapatkan kasih sayang setiap harinya adik tiriku bahkan kakakku Aisyah jarang diperhatikan juga. Dia berusaha untuk hidup mandiri katanya dan dia ingin mengurusku dengan kesabarannya.
Aku bangga mempunyai kakak yang sangat perhatian padaku. Kakaku memang tidak tegaan pada siapapun apalagi anak kecil yang tidak sempurna fisiknya. Aku sangat mengagumi kakakku ketimbang artis-artis indonesia atau artis luar, dia sangat berjasa dalam hidupku begitu juga dengan ibuku.
Kakakku yang masih berumur 15 tahun itu, dia seorang yang pekerja keras, dia suka belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, membaca buku setiap jamnya, setiap waktu ia isi dengan hal baik dan dengan hal-hal yang positif. Dia tidak pernah pergi bermain untuk seharian, paling saja pergi ke warung internet untuk mengerjakan tugas sekolahnya, itu pun hanya beberapa jam saja.
Ibu dan kakakku adalah wanita yang tegar. Namun, sekarang ibuku sudah ada yang mendampingi lagi dan aku kategorikan bahwa kak Aisyah lah wanita yang paling tegar. Dia masih remaja belum masuk usia dewasa tapi dia masih mau mengasuhku dan memberiku makan, menyuapiku, memandikanku, membersihkan kotoranku. Aku lemah tidak berdaya, tidak seperti kakakku yang fisiknya sempurna. Tuhan itu cukup adil bagiku dia telah menciptakan makhluknya sedemikian rupa, dia menciptakan manusia tidak sempurna namun ada yang harus menyempurnakannya. Seperti aku inilah contohnya, Tuhan menciptakan kak Aisyah untukku, agar bisa mengurus dan memperhatikanku tanpa mengenal lelah dan letih. Dia juga belajar sepanjang hari agar menjadi murid yang berprestasi di sekolahnya. Kak Aisyah memang pandai mengatur waktu. Kak Aisyah juga sangat menyukai berolahraga dan itu menyehatkan katanya. Seandainya fisikku sama seperti kak Aisyah mungkin setiap hari minggu kita jogging bareng, main bulu tangkis bareng, main basket bareng dan yang lainnya.
Andai saja orangtuaku mampu menunjang kebutuhan hidup kita mungkin kak Aisyah sekarang sudah menjadi Atlet terbaik. Namun sayang kelabilan ekonomi yang membuat kita tidak bisa mengembangkan bakat kita masing-masing. Kalau aku tidak punya bakat apa-apa, bakatku Cuma nyusahin kak Aisyah dan Ibuku saja. Tapi aku sangat suka melukis, sering kali aku melukis wajah kak Aisyah yang anggun nan cantik jelita itu. Kepalanya yang selalu ditutupi oleh kerudung, wajahnya yang cantik, dan kulitnya yang tidak begitu putih, tidak begitu hitam juga tapi menurutku itu adalah anugerah yang Allah berikan yang telah membuat kak Aisyah sempurna di mataku.
Namun, ibuku sifatnya kini jauh berbeda semenjak ia menikah lagi. Bapakku kini telah jauh dariku, entah dimana sekarang dia berada. Ibuku selalu memarahiku jika aku pipis dicelana karena tak tahan, aku dimarahinya. Katanya aku ini ‘anak yang tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan orang tua saja. YaAllah, jika hati ibuku masih lembut seperti dulu mungkin aku tidak terlalu sakit hati atas semua perkataannya. Seandainya ibuku tidak menikah lagi mungkin aku akan terus diperhatikan seperti dulu. Perhatiannya kini pudar semenjak kehadiran anak-anak dari ayah tiriku.
Aku bagaikan lilin yang habis batangnya karena dilelehkan api dan sekarang aku tidak berguna, aku sangat tidak berguna. Ibuku selalu bilang jadilah anak yang berguna walaupun keadaan fisikmu seperti ini. Namun apa yang dapat aku lakukan? Tidak ada, aku hanya dapat duduk di kursi roda ini pemberian dari Ibu ayahku yang kini sudah meninggal sekitar 5 tahun yang lalu. Aku hanya dapat duduk di kursi roda tua ini dan aku tidak ada tenaga untuk mendorong sendiri kursi roda ini, kadang aku menyuruh kak Aisyah untuk mendorongnya. Aku tidak berani menyuruh ibuku, karena aku takut ibuku malah marah-marah. Ibuku sungguh tidak seperti dulu. Apa aku ini menjijikan sehingga ayah tiri dan ibu kandungku sendiri tidak sudi memberikan perhatiannya padaku. Aku hanya butuh kasih sayang dari kedua orangtua ku yang utuh, yang seperti dulu. Sungguh aku tidak ingin mempunyai ayah tiri dan aku ingin ibuku menyayangiku seperti dulu. Saat aku masih bayi dan seterusnya.
Kak Aisyah tempatku mengadu, ka Aisyah yang memelukku saat aku hendak tidur, kak Aisyah yang mencium keningku saat aku sudah terlelap dalam tidurku. Aku dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari ka Aisyah. Kasih sayang ibu padaku kini telah pudar, ibu tidak peduli lagi kepadaku. Ya Allah bukakanlah kembali pintu hati IBu untukku. Aku selalu berdoa seperti itu setiap malam, sebelum aku tidur.
Setiap pagi, aku hanya dapat memandang pemandangan yang tidak enak bagiku. Ibuku yang biasanya membuatkan nasi goreng dan satu cangkir teh manis, sekarang semuanya telah dialihkan pada adik tiriku. Satu suapan pun ibu tidak pernah memberikannya lagi untukku.
“Ehhmm, udah nih makan aja nasi goreng Kakak Al, kakak gak bisa nyuapin kamu. Kakak buru-buru berangkat sekolah, maaf banget ya.” Kata kak Aisyah sambil menyimpan satu piring plastik nasi goreng di pahaku. Aku hanya tersenyum melihat kak Aisyah, dia sangat peduli kepadaku.
“HAti-hati kak.” Teriakku sambil melambaikan tangan.
Nah, sekarang sepi tanpa kak Aisyah. Gak ada teman ngobrol, nggak ada teman bercerita. Untung saja Allah masih mengizinkan aku berbicara, setelah Allah kasih aku ketidak sempurnaan fisik ini. Mataku hanya terbuka satu saja, mata sebelahku memang sudah tidak ada sejak saat aku dilahirkan. Kak Aisyah yang bercerita tentang aku waktu aku masih bayi dan masih ada dalam kandungan.
Katanya, dulu aku sering dibelai oleh ibu saat aku masih ada dalam kandungan. Aku dijaga sepenuh hati oleh ibu. Aku dijaga sepenuhnya oleh ibu, dengan seluruh kasih sayangnya walau aku masih ada di dalam kandungan, ibu berharap mengeluarkan anak perempuan agar kak Aisyah punya kawan untuk bermain. Namun semuanya berbeda, ibu ku terjatuh saat ibu sedang mengepel halaman rumah.
Ibu mengepel dengan lap tangan, ibu bilang sama kak Aisyah bahwa ibu ceroboh karena Ibu juga tidak hati-hati. Ibu terpeleset saat membersihkan lantai di halaman dan ibu langsung tengkurap dan setelah aku dilahirkan keadaan fisikku seperti ini. Setelah ibu bersusah payah dan menaruhkan setengah nyawanya untuk mengeluarkan aku dari rahim dan Ibu menangis saat mengetahui bahwa aku cacat. Namun, ibu memelukku ibu bersyukur setidaknya aku ada di dunia ini dan dapat menemani ibu. Ibu bilang ibu akan menjagaku, walaupun aku cacat katanya. Ibu akan selalu menyayangiku dan selalu memberikan perhatiannya padaku.
Itu yang kak Aisyah ceritkan kepadaku.
Tapi, kenapa semenjak ada anak tiri nya sifat dan prilaku Ibu kepadaku itu sangat berbeda. Ibu sepertinya sudah tidak peduli lagi kepadaku. Hari-hari yang aku jalani penuh dengan rasa IRI karena beruntungnya saudara tiriku mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungku. Saudara tiriku memang perlu diberi kasih sayang dan karena ibu kandungnya sudah meninggal. Aku selalu berusaha untuk memakluminya, aku mencoba sabar, mungkin nanti ada saatnya lagi ibu bisa memperhatikanku lagi. Walaupun bukan sekarang.
Siang itu aku menghampiri Ibu yang sedang duduk menghadap mesin jahit, ibuku memang mahir dalam urusan jahit-menjahit. Ibu juga tidak perlu pergi jauh-jauh ke pasar untuk membeli baju baru. Ibu selalu memanfaatkan kain-kain yang tersisa untuk dibuat baju atau barang lainnya, karena sisanya juga tidak terlalu banyak. Paling ibu suka menambalnya dengan warna kain yang lain, tapi ibu menambalnya dengan sangat rapi seperti bukan baju yang ditambal dari sisa-sisa kain. Aku menghampiri ibu saat itu, sudah lama aku dan ibu tidak bercakap.
“Ibu..” Panggilku sambil mendorong kursi rodaku dengan perlahan dan menghampiri ibu.
“Apa Alya?”
“Ibu sudah makan siang dan shalat dzuhur bu?” Tanyaku
“Belum, tanggung. Siang ini baju yang ibu jahit harus segera selesai. Kamu kalau mau makan, makan saja. Tidak usah pedulikan ibu!” Bentak Ibuku.
“A..aaa.. anuu Bu, aku tidak bisa mengambilnya sendiri.” Kataku dengan gugup. Sebentar lagiibu pasti ngomel.
“Aduhh, anak manis kasian sekali kamu.” Kata ibu sambil mengelus daguku “Ambil saja sendiri, ibu masih sibuk Alya, tolong ngerti!” Spontan ibu langsung membentak lagi. Aku terkaget, dulu ibu tidak seperti itu. Ibu rela menunda pekerjaannya dulu untuk menemaniku makan. Namun sekarang ibu malah sering memarahiku. Mungkin ibuku sudah terpengaruh oleh anak tiri dan suaminya yang sekarang.
“Ii.. iyyaa bu, maafkan aku Bu.” Kataku langsung menunduk.
Tiba-tiba..
“Assalamualaikum.. Ibu Aisyah pulang.” Teriak kak Aisyah yang sudah pulang sekolah, kak Aisyah menghampiri tempat ibu menjahit dan mencium tangan ibu dan aku mencium tangan kak Aisyah.
“Walaikumsalam. Urus sana adikmu, jangan sampe dia ganggu ibu lagi kerja kaya gini!” Seru Ibuku.
“Iya bu. Yuk Al, ke kamar kakak dulu.” Ajak kakaku sambil mendorong kursi roda.
“Kamu tadi kenapa sama Ibu Al?”
“Nggak kenapa-kenapa kok kak. Ibu Cuma salah paham aja, tadi kan Alya tanya ibu sudah makan dan shalat dzuhur belum. Tadinya aku hanya ingin mengingatkan ibu saja bukan ingin meminta makan.” Kataku menjelaskan.
“Heum, ya udah lagian ibu kan lagi kerja, jadi ibu kaya gitu. Kamu udah makan?”
“Belum kak.”
“Ya udah tunggu ya, kakak ganti baju sama shalat dulu. Nggak lama kok, ntar kita makan bareng. Oke.” Kata kak Aisyah dan kami tos.
Aku benar-benar senang dengan kak Aisyah, kak Aisyah orangnya bener-bener baik. Dia selalu memperhatikan aku walaupun aku tau sebenarnya kak Aisyah lelah. Kak Aisyah selalu sabar mengurusku, bahkan kak Aisyah yang sering membuatku tertawa lepas. Kak Aisyah sangat pintar juga membuat lelucon. Sudah 20 menit aku menunggu kak Aisyah dan sekarang waktunya makan siang bareng kak Aisyah.
“Kamu mau makan dimana Al. Di luar atau di dalam saja? Mungkin kamu jenuh di dalam rumah terus?” Tawar kak Aisyah.
“Di luar enak kali ya kak.” Kataku.
Kak Aisyah mengangguk dan membawaku ke teras rumah depan. Tidak begitu luas halaman rumah kami, namun kak Aisyah selalu merawatnya dengan baik jadi rumah kami tidak begitu terlihat jelek dan kumuh. Kak Aisyah suka merawat tanaman-tanaman kami yang kecil setiap pagi dan sore. Jika kelak kak Aisyah sudah menikah mungkin kak Aisyah akan menjadi IBU TERBAIK, kak Aisyah sudah tau bagaimana caranya membagi waktu dengan baik dan merawat anak-anak. Kak Aisyah menyuapiku dengan lembut, rasanya aku ingin menangis, kenapa tidak ibu yang seperti kak Aisyah, kenapa bukan Ibu lagi yang memperhatikanku. Ibuku sudah mengacuhkan aku, malah yang sering mendapatkan perhatian Ibu itu kakak tiriku. Dia sudah cukup dewasa, namun cara pemikirannya lebih dewasa kak Aisyah.
Setelah selesai makan siang, aku diajak jalan-jalan sama kak Aisyah keluar rumah. Ya walaupun hanya dibawa di halaman rumah saja, tapi aku senang kak Aisyah masih mau menyempatkan waktunya untukku.
“Aduuh, neng Aisyah setia banget jagain adiknya.” Kata salah seorang tetanggaku.
“Hehe iya dong Bu, siapapun yang punya adik pasti bakal ngejaga adiknya sendiri.” Sambung kak Aisyah.
“Iya sih neng, tapi anak ibu boro-boro gitu. Disuruh jagain adiknya beberapa jam juga nggak mau. Anak muda sekarang itu jarang banget ada yang kaya kamu Syah.” Cetus bu Eli.
“Ah ibu ini bisa aja, berlebihan bu.” Kata kak Aisyah merendah, aku hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.
“Hehehe, ya udah Syah. Saya pulang dulu ya.” Kata ibu Eli.
Ibu Eli emang bener sih, buktinya kakak tiriku tidak seperti kak Aisyah. Malah dia sering asik sendiri diem di kamar sambil dengerin radio kak Aisyah yang dia rebut dari kak Aisyah.
Suatu waktu Ibu dan Ayah tiriku bertengkar sampai setiap hari dan itu tidak terhitung sudah berapa kali ayah tiriku membentak ibuku. Aku sangat sedih tidak dapat membela Ibu, namun masih ada kak Aisyah yang bisa membela ibu. Ayah tiriku sekarang sikapnya berubah pada ibuku, dia sering pulang malam dengan alasan lembur. Ibuku kadang tidak percaya dan menanyakan baik-baik pada ayah tiriku ‘tidak mungkin lembur sampai setiap hari’ dan bahkan gajinya juga sama saja dengan kerja tanpa lembur. Tidak lama dari itu ayahku minggat dari rumahku dengan anaknya. Katanya dia bosan punya istri cerewet kaya ibu, yang curigain terus suaminya. Ibuku memohon-mohon untuk tetap meninggalkan anaknya disini. Mungkin kalau aku yang pergi ibu tidak akan mencegahnya karena bagi ibu aku itu tidak berguna tidak dapat membantu ibu apa-apa. Namun, inilah keadaan diriku memang seperti ini jangankan untuk membantu ibu untuk berjalan pun aku sulit. Mungkin nantinya aku malah lebih mengacaukan pekerjaan ibu.
Ibu setiap hari menangisi anak tirinya yang dibawa oleh suaminya. Aku melihat ibu yang selalu menangis walaupun ibu sedang menjahit. Aku menghampiri ibu. “Ibu sudah jangan menangis terus-menerus. Mungkin kalau kak Dewi kangen sama ibu dia akan temuin ibu disini kan.” Kataku coba menenangkan ibu.
“Diam kamu! Tau apa kamu soal ini. Ibu merasa sangat kehilangan Al, dia selalu memberi apapun yang ibu mau. Sedangkan anak-anak ibu mana, tidak ada satu pun yang dapat memberi ibu gelang emas untuk menghias tubuh Ibu.” Kata Ibuku dengan nada tersedu-sedu.
“Ibu, kalau Alya yang pergi apa ibu akan merasa kehilangan. Alya yang sudah ibu rawat dari bayi, bahkan Alya yang sudah ibu kandung selama 9 bulan itu apa ibu masih akan pedulikan kalau aku pergi? Alya memang tidak seperti kak Dewi yang punya uang banyak dan dapat memenuhi kebutuhan ibu. Ibu Alya ini cacat, maafkan Alya jika Alya hanya menyusahkan Ibu tidak dapat memberi apa yang ibu mau. Aku sungguh tidak mampu BU.” Kataku sambil memandang wajah ibu yang berlinangan dengan air mata di wajahnya. Ibu ku berhenti menangis dan terdiam. Ibu langsung menghampiri aku dan hanya berdiri di hadapanku.
“Betapa berharganya kak Dewi di mata ibu, dia Cuma anak tiri ibuk an. Aku coba paham sama sikap ibu yang beberapa tahun ini sama sekali tidak mempedulikan aku. Apa aku sama berharganya dengan kak Dewi?”
Ibu memelukku “Maafin Ibu Alya, ibu khilaf. Ibu suka terpengaruh sama omongannya Dewi. Dewi pernah bilang sama Ibu, buat apa mengurus anak yang sama sekali belum bisa menghasilkan uang untuk Ibu. Ibu terhanyut begitu saja dengan kata-kata Dewi, sehingga ibu tidak mempedulikan kamu dan Aisyah. Ibu menyesal Nak.” Ibu memelukku semakin erat dan menangis lagi.
Tiba-tiba kak Aisyah datang di balik pintu, kak Aisyah sudah mendengar percakapan aku dengan Ibu seadari tadi “Asstagfirullah Ibu. Semuanya juga butuh proses untuk menghasilkan uang dan kita juga harus punya bekal dulu untuk bisa bekerja. Ibu tau Aisyah ini masih sekolah kan bu, Alya juga tidak dapat menghasilkan apa-apa karena keadaannya yang tidak mendukung, dan ibu masih mengharapkan uang dari kita yang masih belum layak bekerja. Ibu, Aisyah Janji Aisyah bakal bahagiain ibu kelak Aisyah sudah sukses, Alya juga selalu berusaha menjadi anak yang berguna untuk ibu dan bapak. Namun, sekarang bapak sudah pergi entah kemana. Bapak sudah tidak peduli lagi sama kita. Dan sekarang Ibu juga seperti ini karena terhasut oleh omongan orang lain, uang dan perhiasan yang sekarang ibu pakai.”
“Aisyah maafin Ibu Nak, ibu memang salah. Ibu tidak peduli sama kalian karena Dewi dan bapaknya selalu memberi Ibu uang untuk sehari-hari. Untuk kamu sekolah juga, Nak.”
“Sudah, bu. Ibu tidak harus seperti ini, mereka sudah meninggalkan ibu tanpa mempedulikan betapa sakitnya ibu yang terkhianati. Aku tau Pak Reno sudah punya perempuan yang lain lagi. Aisyah melihat dengan mata dan kepala Aisyah sendiri, pak Reno keluar dari rumah makan dan menggandeng seorang perempuan. Aisyah tidak ingin menceritakannya karena mungkin ibu tidak akan percaya.”
“Aisyah, apa kamu sungguh dengan apa yang kamu bicarakan?”
“Tentu Ibu.”
“Ya sudah lupakan saja. Biarkan saja Reno pergi, hati ibu sudah sangat sakit sekali. Ibu mohon sama kalian ya jangan pergi dari ibu. Ibu cukup kehilangan ayahmu yang sekarang dan anak tiri ibu. Ibu baru sadar, anak yang paling berharga itu anak yang sholeh dan menyayangi orang tua.”
“Iya syukurlah kalau ibu sadar. Sayangi Alya seperti yang ibu janjikan dulu ya Bu. Waktu pertama Alya dilahirkan, ibu ingat kan? Jangan acuhkan Alya bu, kalau Aisyah sih tidak apa-apa. Aisyah dapat melakukan sesuatu sendiri, tolong ya bu sayangi Alya seperti dulu. Dan kami tidak mungkin membiarkan ibu sendiri disini.” Kata kak Aisyah sambil memeluk aku dan ibu.
“Iya Aisyah ibu Janji dan takkan melanggarnya lagi. Maafin ibu ya Nak.” Lanjut ibu, sambil tersedu-sedu “Ternyata kamu udah cukup dewasa Syah. Ibu sayang kalian.” Sambung Ibu lagi dan memeluk kami dengan erat. Aku sangat merasakan kehangatan saat ini, aku bahagia hari ini dan mungkin seterusnya.
“Ibu Alya minta ibu jangan menangis lagi, lupakan semua masalah ibu. Ada Alya sama kak Aisyah yang bakal nemenin ibu terus.” Kataku sambil mengusap air mata di wajah ibu.
“Iya Nak, terimakasih sudah mau memaafkan ibu.”
“Sudahlah ibu, kami ini anak ibu. Tidak baik jika saling menyimpan rasa benci atau apapun itu. Alya tetep sayang sama ibu ko.” Kataku sambil merasakan kehangatan pelukan dari Ibu.
*Terimakasih Ya Allah, sudah menyadarkan ibuku kembali. Doaku yang kupanjatkan malam ini.
Sekarang aku tertidur dengan pelukan hangat dari seorang Ibu lagi dan kak Aisyah. Dan kecupan di keningku yang dapat menenangkan hatiku. Sekarang Allah sangat adil kepadaku, dia telah mengirimkan dua Malaikat untuk menjagaku agar aku tak kesepian.
Armada – Ibu
Peluk bahagia, bilaku dewasa.
Khilaf yang pernah aku lakukan dahulu.
Tak berniatku tuk menyakiti hatimu.
Oh.. Ibu…
Cintamu tak mengenal waktu.
Kasihmu menyadarkan aku.
Tak ada yang lebih dari mu.
Oh.. Ibu..
Apakah ku mampu membalas semua yang pernah kau beri dengan ikhlas.
Nyawa pun relakanku lupa.
Oh.. Ibu…
Hidupmu menuntun jalanku.
Cahaya terang dalam gelap langkahku menuju surga dikakimu.
Menuju surga dikakimu.
Oh.. Ibu…
Cerpen Karangan: Vindia Arini
Facebook: vindia_arini[-at-]yahoo.co.id

Cinta Sejati


Saat itu aku masih duduk di kelas 3 SMP, dan Aku masih nggak kenal Yang namanya “cinta”. Bagiku “pendidikan” itu nomor 1 daripada “cinta”. Hingga akhirnya Aku bertemu dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah Temannya tetanggaku.
Tiap aku pulang sekolah Aku melihat dia sedang menjemput tetanggaku Dan dia selalu melihat aku dengan penuh perasaan. Tapi aku “cuek-cuek” aja. Pada dasarnya aku anaknya “cuek”. Ternyata laki-laki itu cerita dengan tetanggaku Kalau dia suka sama aku.
Keesokan harinya tetanggaku bilang ke Aku kalau temannya suka dengan aku. Tapi aku masih kelas 3 SMP apalagi habis ini aku mau ujian sekolah, gumamku. Akhirnya Aku bilang ke tetanggaku kalau dia emang suka denganku dia harus Deketin orangtuaku dulu.
Ternyata tetanggaku langsung bilang ke dia apa yang aku bilang ke dia kemarin Dengan percaya diri laki-laki itu menyetujui dengan syaratku dan akhirnya laki-laki itu Mendekati orangtuaku hingga akhirnya orangtuaku senang jika laki-laki itu buat medekati Aku.
Tapi aku masih nggak percaya sama semua ini jika ada laki-laki yang mau deketin Aku mesti orangtuaku marah-marah tapi ini beda banget. orangtuaku malah suka dengan Laki-laki tersebut.
Hari demi hari telah terlewati dan aku telah lulus sekolah dengan nilai yang sangat memuaskan. Tepat pada malam taun baru dia mengajak ku keluar dan kita makan-makan. Setelah kita makan Dia mengajakku di sebuah tempat yang sangat indah bagiku. Di saat itu juga dia mengungkapkan tentang peraasannya. dan tanpa pikir panjang aku langsung menerimanya. Dan dia sangat senang. Dan aku berharap dia adalah orang yang terbaik untukku dan bisa menjadi “cinta sejatiku”
Cerpen Karangan: Siti Rukoiyah
 
Support : Creating Web | heri | Heri
Copyright © 2014. Sport/Health/Dll - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Heri Template
Proudly powered by Blogger